MASALAH dan POTENSI

PJM PRONANGKIS No Comments »

Upaya penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg dapat dilihat dari beberapa sisi permasalan yang akan diimplementasikan dalam konsep Tridaya dimana ada beberapa komponen permasalahan yang ada di masyarakat dan permasalahan kemiskinan harus ditanggulangi secara terpadu dan berkelanjutan.

3.1 AKAR MASALAH BIDANG PENDIDIKAN

Sebagimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, di Kelurahan Pondok Rajeg terdapat kesenjangan tingkat pendidikan antara masyarakat yang tinggal di perumahan (pendatang) dengan penduduk asli. Tingkat pendidikan masyarakat pendatang umumnnya lebih tinggi (SMU dan S1) sedangkan tingkat pendidikan masyarakat asli didominasi oleh mereka yang tidak tamat atau hanya tamat pendidikan dasar. Selain tampak pada golongan usia produktif (18 – 55 tahun), kesenjangan tingkat pendidikan juga tampak pada kelompok usia sekolah (7 – 18 tahun). Hingga saat ini diperkirakan bahwa ? 30% anak SD dari kelompok penduduk asli tidak melanjutkan pendidikan ke SMP atau yang sederajat, dan ? 50% anak lulusan SMP atau yang sederajat tidak melanjutkan ke SMU atau yang sederajat. Di dalam angka-angka ini, diperkirakan sekitar 70% nya adalah perempuan; dengan kata lain, angka putus sekolah pada perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Meskipun kasus putus sekolah juga terjadi pada penduduk pendatang, namun angkanya jauh lebih kecil. Tingginya angka putus sekolah ini terjadi karena hal-hal berikut: - Rendahnya tingkat pendapatan orang tua. Saat ini meski ada program BOS, tetapi orang tua masih dibebani dengan uang seragam, uang buku dan uang pendaftaran. Selain itu, untuk tingkat SMP dan SMU, karena tidak dapat dijangkau dengan berjalan kaki, maka orang tua harus menyiapkan biaya transportasi. Hal ini yang menjadi beban bagi orang tua dan menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. - Rendahnya tingkat kesadaran orang tua mengenai arti penting pendidikan. Hal ini terutama bila menyangkut anak perempuan. Adanya anggapan bahwa tugas perempuan adalah mengerjakan tugas-tugas domestik dan tidak membutuhkan pendidikan tinggi menyebabkan tingginya angka putus sekolah terutama pada perempuan. - Kurikulum di sekolah tidak mudah diaplikasikan dan tingginya angka pengangguran pada orang-orang yang berpendidikan menengah (SMU) dan tinggi (S1) menyebabkan orang tua putus harapan mengenai arti pentingnya pendidikan. Selama ini ada harapan bahwa orang-orang yang berpendidikan menengah dan tinggi akan lebih mudah mencari pekerjaan di sektor formal. Tetapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Sempitnya lapangan kerja di sektor formal ini menyebabkan orang tua pesimis mengenai arti pentingnya pendidikan.

3.2 AKAR MASALAH BIDANG KESEHATAN

Masalah kesehatan di Kelurahan Pondok Rajeg muncul karena kebiasaan hidup masyarakat yang kurang memperhatikan kesehatan seperti penggunaan air minum yang kurang bersih atau higienis, buang air kecil atau besar disembarang tempat, pola makan yang kurang bergizi, membuang sampah tidak pada tempatnya dan juga karena prasarana dan sarana lingkungan atau sanitasi yang kurang baik seperti tidak adanya sarana MCK umum yang sehat dan tidak tersedianya pasilitas pembuangan sampah rumah tangga. Balita kurang gizi umumnya terjadi karena rendahnya pendapatan orang tua serta kurangnya pengetahuan dari orang tua mengenai gizi dan tumbuh kembang anak. Sementara kehamilan bermasalah terjadi, selain karena kurang gizi pada perempuan juga karena pernikahan di bawah umur sehingga secara fisik dan psikis sebenarnya belum siap. Adapun kesulitan mengakses sarana kesehatan terjadi karena jarak ke Puskesmas yang relatif jauh sehingga untuk ke sana membutuhkan biaya transportasi yang relatif tinggi.

3.3 AKAR MASALAH BIDANG EKONOMI

Pada umumnya masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg adalah rendahnya tingkat pendapatan karena sebagian besar mata pencaharian atau pekerjaan masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg adalah kerja serabutan serta masih tingginya angka pencari kerja atau penggangguran karna sulitnya lapangan kerja dan ketatnya persaingan usaha. Masalah lain terjadinya kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok sedangkan kemampuan untuk membeli atau memenuhi kebutuhan pokok semakin berkurang karna pendapatan yang terus menurun. Sedangkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg yang memiliki berbagai kegiatan aneka jenis usaha ekonomi produktif skala kecil adalah adanya persaingan usaha yang ketat apalagi dengan kemampuan sumber daya manusia yang rendah mengakibatkan pada minimnya mendapatkan akses informasi bada berbagai alternatif permodalan dan pelatihan kewirausahaan sehingga sulit untuk mengembangkan usahanya. Adapun usaha yang sudah berjalan mengalami kesulitan dalam pemasaran produknya.

3.3 POTENSI KELURAHAN PONDOK RAJEG

Pelaksanaan kegiatan dalam penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg tidak terlepas dari faktor pendukung dan faktor penghambat, potensi sumber daya yang bisa menunjang dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg sangat baik dan cukup diantaranya:

Sumber Daya Alam

Tanah dan ketinggiannya cocok untuk tanaman hias, sayur dan buah. Saat ini buah yang banyak terdapat di Kelurahan Pondok Rajeg adalah rambutan, durian, pisang, cempedak dan mangga. Adapun sayuran yang bisa tumbuh baik adalah jagung dan ketela pohon. Saat ini masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kelurahan Pondok Rajeg juga cocok untuk usaha peternakan dan perikanan darat (empang) dan secara umum tersedia kecukupan air.

Sumber Daya Manusia

Potensi sumber daya manusa yang spesifik adalah mata pencaharian warga khususnya warga miskin yang bisa dikembangkan misalnya para pedagang dan industri rumah tangga yang selama ini tidak bisa berkembang karena sulitnya mendapatkan permodalan, keberadaan masyarakat ini menjadi sasaran PNPM Mandiri dengan memamfaatkan dana stimulant untuk meningkatkan pendapatan dengan memgembangkan usahanya. Selain itu banyak perempuan yang trampil membuat hiasan monte (nge-bidding) dan keset dari limbah kain.

Sumber Dana

Saat ini di beberapa wilayah RW sudah berjalan model simpan pinjam yang dikelola secara mandiri dan mampu membantu usaha produktif. Dengan banyaknya potensi yang dimiliki masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg tidak menutup kemungkinan masalah kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg ini bisa tertanggulangi mulai dari sektor ekonominya dan sampai pada peningkatan tarap hidup masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg. Rencana Kegiatan PJM Pronangkis Kelurahan Pondok Rajeg ini merupakan akumulasi usulan rencana atau kegiatan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat sehingga bagian rencana kegiatan berisi jenis-jenis usulan dan rencana kegiatan berdasarkan peta kekuatan dan potensi serta kebutuhan riil yang ada di masyarakat, dengan memperhatikan urutan prioritas kegiatan, estimasi, polemik kegiatan, tahun pelaksanaan, sumber pendanaan (APBD, Swadaya, BLM PNPM-Mandiri Perkotaan) serta hasil yang diharapkan.

GAMBARAN UMUM DAN KONDISI KEMISKINAN

PJM PRONANGKIS No Comments »

2.1 KONDISI UMUM

Kelurahan Pondok Rajeg adalah bagian dari wilayah Kecamatan Cibinong yang ada di Kabupaten Bogor yang secara geografis relatif dekat dengan Kota Depok dan Jakarta. Letaknya yang sangat strategis itu menyebabkan Kelurahana ini menjadi salah satu pilihan utama pembangunan kompleks-kompleks perumahan, terutama untuk tipe rumah sederhana, bagi warga masyarakat yang bekerja di Depok dan Jakarta. Hingga saat ini ada ada 10 buah perumahan yang cukup besar di Kelurahan Pondok Rajeg yaitu Perumahan LIPI, Pondok Widyatama Indah, Pondok Rajeg Asri, Puri Mas Perdana, Permata Pondok Rajeg, Griya Asri Mandiri, Bumi Cakra, Persada Alam, Greenery Jamaica dan Puri Kencana. Kehadiran 10 buah perumahan itu menyebabkan meningkatnya proporsi penduduk pendatang. Saat ini diperkirakan lebih dari 20% penduduk Kelurahan Pondok Rajeg adalah pendatang.[1] Adanya pendatang ini juga mempengaruhi karakteristik masyarakat yang awalnya memiliki ciri-ciri rural bila dilihat dari mata pencahariannya menjadi masyarakat yang berkarakter campuran rural dan urban.

Perbedaan antara penduduk asli dan pendatang yang salah satu diantaranya tampak dalam mata pencaharian dan tingkat pendapatan di satu sisi memang menjadi masalah karena menimbulkan kecemburuan sosial, namun di sisi lain merupakan potensi untuk mendorong upaya bersama dalam penanggulangan kemiskinan

2.2 . KONDISI FISIK

a. Luas Wilayah Dan Batas Administrasi

Kelurahan Pondok Rajeg Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat memiliki luas wilayah 200,75 Ha dengan ketinggian 150 meter DPL dan beriklim tropis. Posisi Kelurahan Pondok Rajeg secara Administratif dibatasi oleh:

  1. Batas sebelah Utara
: Kelurahan Kalimulya
  1. Batas sebelaSelatan
: Kelurahan Tengah
  1. Batas sebelah Barat
: Kelurahan Pondok Jaya
  1. Batas Sebelah Timur
: Kelurahan Harapan Jay

b. Bentuk Wilayah

Kelurahan Pondok Rajeg memiliki bentuk wilayah datar dan berbukit. Kelurahan Pondok Rajeg memiliki 44 RT, 11 RW.

c. Jarak Pusat pemerintahan Kelurahan Pondok Rajeg

Jarak dengan Kecamatan : 6 Km

Jarak dengan Ibukota Kabupaten : 3 Km

Jarak dengan Ibukota Propinsi : 150 Km

Jarak dengan Ibukota Negara : 40 Km

d. Tata Guna Lahan

Tabel 2.1

Penggunaan Lahan di Kelurahan Pondok Rajeg

No

Penggunaan Lahan

Luas (Ha)

1.

Pemukiman Perumahan *)

150,25

2.

Empang

17,50

3.

Sarana Olah Raga

15

4.

Pekuburan

30,67

*) Data hasil proyeksi

2.1 KEPENDUDUKAN

1. Peta kependudukan Kelurahan Pondok Rajeg

Tabel 2.2

Karakteristik Penduduk di Kelurahan Pondok Rajeg

No

Punduduk

Jumlah (jiwa)

1.

Jumlah Penduduk

11.577

2.

Jumlah Penduduk laki- laki

5.882

3.

Jumlah Penduduk Perempuan

5.695

4.

Jumlah KK

3.238 KK

5.

Jumlah Warga Negara Asing

-

6.

Jumlah Penduduk Beragama Islam

11.003

7.

Jumlah Penduduk Beragama Kristen Protestan – Katholik

172

8.

Jumlah Penduduk Beragama Kristen Hindu

42

9.

Jumlah Penduduk Beragama Kristen Bundha

30

10.

Jumlah Keluarga Miskin

6130

Sumber : Potensi Desa, Tahun 2007

  1. 2. Peta KK Miskin Kelurahan Pondok Rajeg

Sebagaimana telah dikemukakan di bagian awal, di Kelurahan Pondok Rajeg terdapat 9 kompleks perumahan yang penduduknya umumnya memiliki mata pencaharian tetap dengan upah rata-rata di atas upah minimum. Sementara itu cukup banyak penduduk asli yang tinggal di luar kompleks perumahan tidak memiliki mata pencaharian tetap sehingga tidak memiliki penghasilan tetap. Di wilayah-wilayah itulah umumnya terdapat kantong-kantong kemiskinan.

2.4 KONDISI EKONOMI

Mata pencaharian penduduk Kelurahan Pondok Rajeg terutama adalah buruh tani (lahan kering, terutama untuk pertanian tanaman hias), dan buruh. Selain itu juga cukup banyak karyawan swasta (terutama penduduk yang tinggal di perumahan), PNS dan wiraswasta (terutama pedagang) dll.

Selain penduduk yang memiliki mata pencaharian tetap, saat ini juga banyak penduduk (laki-laki) usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan tetap (serabutan) atau menganggur. Kelompok ini biasanya akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan jangka pendek misalnya menjadi buruh bangunan atau bertani tanaman hias di lahan yang sangat sempit di sekitar tempat tinggalnya. Sementara itu perempuan dalam keluarga tersebut menjadi buruh makloon perusahaan garmen dan mengerjakan pemasangan monte (nge-bidding). Kelompok inilah yang biasanya masuk dalam kategori KK miskin.

Tabel 2.3

Sektor Ekonomi yang Terdapat di Kelurahan Pondok Rajeg

No

Penduduk

Jumlah (unit)

1.

Industri Menengah / kecil

2 Unit

2.

Industri rumahan/ makloon

4 Unit

5.

Koperasi

1 Unit

6.

Warung, Kios atau Toko

141 Unit

7.

Kelompok Simpan Pinjam

1 Unit

9.

Produk Hasil Unggulan Tingkat Desa

Ikan, Bambu

10.

Usaha Produktif Mayoritas KK Miskin

Berkebun

Sumber : Potensi Desa, Tahun 2007

2.5 KONDISI SOSIAL

a. Pendidikan

Kondisi umum pendidikan di Kelurahan Pondok Rajeg saat ini masih sangat memprihatinkan dan terdapat kesenjangan antara penduduk pendatang (yang tinggal di perumahan) dan penduduk asli. Meskipun hingga saat ini belum ada angka yang pasti, tetapi dengan melihat jenis-jenis pekerjaannya, dapat diduga bahwa penduduk pendatang usia produktif (18 th – 55 tahun) umumnya memiliki latar belakang pendidikan menengah (SMA) dan tinggi (S1), sementara penduduk asli dalam kategori yang sama didominasi oleh kelompok yang tidak tamat pendidikan dasar (SMP).

Tabel 2.4

Jumlah Gedung Sekolah di Kelurahan Pondok rajeg

No

Tingkat Pendidikan

Jumlah

1

Jumlah Sekolah PAUD

4 Buah

2

Jumlah Sekolah TK

3 Buah

3

Jumlah Sekolah SD/MD

6 Buah

4

Jumlah Sekolah SMP/ Tsanawiyah

2 Buah

5

Jumlah Sekolah SMA / SMK

1 Buah

6

Jumlah Perguruan Tinggi

-

7

Jumlah Bangunan Pesantren

2 buah

Sumber : Potensi Desa, Tahun 2007

b. Kesehatan

Masalah kesehatan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg yaitu balita kurang gizi, kehamilan bermasalah,serta kesulitan mengakses sarana kesehatan (Puskesmas) yang terletak diluar Kelurahan Pondok Rajeg.

Tabel 2.5

Kondisi Kesehatan Masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg

No

Kondisi Kesehatan

Jumlah

1.

Angka Harapan Hidup

0

2.

Jumlah Dokter (praktek pribadi)

4 Orang

3.

Jumlah Bidan

2 Orang

4.

Jumlah Paraji

4 Orang

5.

Angka Kematian Bayi

Tidak ada

6.

Angka Kematian Ibu

Tidak ada

7.

Jumlah Rumah Sakit

Tidak ada

8.

Jumlah Puskesmas

Tidak ada

9.

Jumlah Klinik Kesehatan

1 Unit

10.

Jumlah Posyandu

12 Buah

Sumber : Potensi Desa, Tahun 2007

c. Ketenagakerjaan

Kondisi ketenagakerjaan di Kelurahan Pondok Rajeg memang masih sangat memprihatinkan. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, jumlah penduduk usia produktif yang saat ini tidak bekerja atau bekerja serabutan sangat tinggi sehingga berdampak pada rendahnya tingkat pendapatan.

Tingginya angka pengangguran dan jumlah penduduk yang bekerja serabutan itu selain karena tingkat pendidikan mereka rendah juga karena adanya kecenderungan untuk memilih bekerja di lingkungan sekitar desa dengan upah yang lebih rendah daripada bekerja di luar daerah meskipun dengan upah yang lebih tinggi. Dengan kata lain, di Kelurahan Pondok Rajeg tidak ada tradisi bermigrasi (terutama berupa urbanisasi) yang bertujuan untuk bekerja.

Saat ini jumlah penduduk dewasa produktif atau yang bekerja adalah 2985 dan jumlah penduduk yang tidak produktif atau pengangguran adalah 4000 orang. Adapun program pembangunan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg meliputi: Pembinaan wira usaha baru, pembinaan tenaga kerja mandiri terdidik, padat karya dan pengembangan system informasi ketenagakerjaan.

2.6 KONDISI SARANA DAN PRASARANA

Kondisi sarana dan prasarana yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg dapat ditinjau dari beberapa aspek diantaranya:

a. Prasarana dan Sarana Ekonomi

Kondisi prasarana dan sarana ekonomi yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg saat ini sudah ada sedikit kemajuan seperti banyaknya ruko-ruko yang berdiri yang digunakan untuk prasarana dan sarana berbagai jenis usaha dan berdirinya beberapa sentra kerajinan rumah tangga.

b Prasarana dan Sarana Tranportasi dan Perhubungan

Sarana tranportasi Kelurahan Pondok Rajeg pada umumnya sudah cukup baik dan memadai karena posisi Kelurahan Pondok Rajeg yang cukup trategis. Selain ojek, pilihan sarana transportasi yang dapat digunakan oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg dan sekitarnya adalah angkutan perkotaan (angkot) dengan trayek Kampung Sawah – Cibinong pp yang melintasi Kelurahan Pondok Rajeg dan beroperasi antara pk 02.00 – 21.00

Sedangkan untuk prasarana perhubungan (jalan) yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg jalan utama (Jalan Kabupaten) dalam kondisi bagus. Tetapi jalan setapak masih banyak yang belum diperkeras (semen) sehingga saat hujan sangat becek/ licin dan kurang mendukung pengembangan ekonomi produktif (pedagang keliling atau buruh yang hendak pergi-pulang bekerja).

c. Prasarana dan Sarana Air Bersih

Dalam hal penggunaan prasarana dan sarana air bersih, masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg lebih banyak menggunakan air bersih yang disediakan alam seperti sumber mata air alam, sumur resapan, dan air tadah hujan.

d. Prasarana dan Sarana Sanitasi (MCK)

Prasarana dan sarana sanitasi yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg masih belum merata. Di perumahan, sebagian besar masyarakat memang sudah memiliki/ menikmati sarana sanitasi yang cukup baik, namun di diluar perumahan masih cukup banyak KK yang belum memiliki sarana sanitasi yang baik. Karena itu dibutuhkan pembangunan sarana sanitasi untuk menggantikan prasarana dan sarana sanitasi yang kurang memadai, agar tarap sanitasi yang baik di lingkungan Kelurahan Pondok Rajeg bisa lebih merata.

e. Prasarana dan Sarana Energi

Kebutuhan terhadap energi di Kelurahan Pondok Rajeg dirasa cukup besar terutama kebutuhan energi listrik untuk penerangan dan kebutuhan energi rumah tangga. Di Kelurahan Pondok Rajeg prasarana dan sarana untuk energi listrik sudah cukup baik, meskipun beberapa KK belum bisa menikmati listrik karena tidak mampu membayar biasa pemasangan instalasi listrik. Untuk energi rumah tangga, selain gas, masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg sebagian besar menggunakan energi minyak tanah dan sebagian ada yang masih menggunakan kayu bakar.

f. Prasarana dan Sarana Pertanian, perkebunan dan peternakan

Prasarana dan sarana pertanian seperti distribusi pupuk, bantuan alat-alat pertanian, penyuluhan atau pelatihan tentang pertanian, perkebunan ataupun tentang peternakan, di Kelurahan Pondok Rajeg kurang diperhatikan dan yang penting adalah prasarana dan sarana pengairan atau irigasi yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg saat ini dirasa kurang memadai sedangkan letak geografis Desa Kalisuren berada di wilayah pedesaan yang kawasannya masih banyak tanah atau lahan perkebunan dan pertaniannya.

2.7 KONDISI SOSIAL BUDAYA

Letak Kelurahan Pondok Rajeg yang dekat dengan kota Depok, Jakarta dan serta banyaknya pendatang mengakibatkan kondisi sosial budaya penduduk Kelurahan Pondok Rajeg berbaur antara sosial budaya asli yaitu Betawi dengan pendatang yang berasal dari berbagai daerah. Dengan demikian maka karakter masyarakatnya juga lebih urban dan persoalan yang dihadapi juga lebih kompleks.

2.8 KONDISI KEMISKINAN

Kondisi kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg harus dilihat dari beberapa sisi permasalahan atau aspek kehidupan yang ada dilingkungan masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg seperti kondisi fisik lingkungan yang sudah rusak, kondisi ekonomi yang lemah, tingkat pendidikan dan kesehatan balita dan ibu melahirkan yang rendah, serta kondisi sosial budaya masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang begitu komplek.

2.9 RUMUSAN KRITERIA KEMISKINAN

Focussed Group Discussion (FGD) Refleksi kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg merupakan langkah yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat mengenai kemiskinan dalam kaitannya dengan pola perilaku dan pola pikir sehari-hari masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg serta mendorong keterlibatan masyarakat miskin dalam mendukung program penanggulangan kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg.

Pelaksanaan FGD Refleksi kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg pada hakekatnya berupaya untuk mencari akar masalah kemiskinan sekaligus mengidentifikasi masalah kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg berdasarkan persepsi dan aspirasi dari masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg.

Berdasarkan hasil Refleksi Kemiskinan Tingkat Kelurahan, didapat kriteria kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg sbb :

  1. Memiliki Rumah tidak layak huni :
    1. Tidak ada penerangan listrik dan atau listrik numpang
    2. Lantai tanah dan atau ubin plester
    3. Tidak memiliki WC atau WC di luar
    4. Dinding bilik atau semi permanen
    5. Memiliki penghasilan di bawah Rp. 500.000/bulan dan atau penghasilan tidak tetap
    6. Tidak memiliki pekerjaan (pengangguran)/ pekerjaan tidak tetap/ pekerjaan tetap tetapi penghasilan minim.

Jenis pekerjaan : buruh, kuli bangunan dll

  1. Jumlah tanggungan lebih dari 4 orang (termasuk anak, istri, mertua dll)
  2. Memiliki anak dengan gizi buruk
  3. Memiliki anak putus sekolah minimal sampai SMU
  4. Sakit-sakitan atau sakit menahun dan tidak mampu kedokter
  5. Cacat sehingga tidak mampu bekerja
  6. Janda tua tidak ada yang menanggung

2.10 PENYEBAB KEMISKINAN DI KELURAHAN PONDOK RAJEG

Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya masalah kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg dapat ditinjau dari beberapa aspek diantaranya:

  • Faktor Ekonomi

Rendahnya pendapatan masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang sebagian besar adalah buruh kasar serabutan dan petani penggarap yang dari segi pendapatan tergolong rendah, serta kualitas dan produktifitas masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang rendah dibuktikan dengan masih banyaknya pengangguran.

  • Faktor Lingkungan

Masih rendahnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana dasar lingkungan umum yang dimiliki oleh masyarakat seperti jalan setapak yang kondisinya rusak dan masih tanah yang apabila hujan turun menjadi becek dan licin, kondisi rumah tinggal yang tidak layak huni yang berada dalam lingkungan yang kumuh,

  • Faktor Sosial

Masih ada anak yatim piatu dan jompo warga miskin yang terlantar,

  • Faktor Kesehatan

Masih rendahnya tingkat kesehatan masyarakat karena kondisi yang serba kumuh dan serba kekurangan yang ditandai dengan adanya kasus-kasus kurang gizi dan kematian pada balita, ibu hamil bermasalah dan kesulitan untuk mengakses sarana kesehatan karena jaraknya yang relatif jauh.

  • Faktor Pendidikan

Masih rendahnya tingkat pendidikan khususnya warga miskin dan banyaknya warga usia produktif yang tidak tamat pendidikan dasar dan anak yang putus sekolah yang berakibat pada menurunnya mutu generasi mendatang.

Selain itu, kemiskinan yang ada juga diakibatkan oleh faktor-faktor struktural seperti faktor kebijakan pemerintah yang masih kurang tepat sasaran dalam menanggulangi kemiskinan. Selama ini warga tidak pernah dilibatkan dan hanya sebatas menerima bantuan tanpa dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program sehingga tujuan penanggulangan kemiskinan belum tercapai.

2.11 DAMPAK KEMISKINAN

Kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg merupakan persoalan yang begitu komplek dengan dampak yang begitu luas di berbagai aspek kehidupan diantaranya:

  1. a. Dampak Primer

Dengan rendahnya pendapatan atau rendahnya daya beli masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg, sulitnya lapangan kerja sehingga mengakibatkan meningkatnya angka pencari kerja atau pengangguran, kenaikan harga kebutuhan bahan-bahan pokok serta naiknya biaya pelayanan sosial, ini semua merupakan hal dasar yang mengakibatkan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg

  1. b. Dampak Sekunder

Adanya perubahan pola atau kebutuhan hidup mendasar dalam keluarga dan masyarakat miskin di Kelurahan Pondok Rajeg dihadapkan pada persoalan adanya PHK sehingga tidak sedikit masyarakat pindah pekerjaan dari sektor formal ke sektor informal serta adanya perpindahan penduduk dari luar Kelurahan Pondok Rajeg.

  1. c. Dampak Tersier

Salah satu dampak kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg adalah dampak tersier yang merupakan turunan dari berbagai kondisi buruk sehingga mewujudkan keresahan sosial yang terus meningkat yang terjadi di ruang lingkup keluarga, kelompok, maupun masyarakat luas.

2.12 SASARAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Beberapa sasaran yang ingin dituju atau dicapai oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg dalam program penanggulangan kemiskinan berdasarkan beberapa aspek persoalan kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg adalah sebagai berikut:

¨ Hubungan dengan aspek lingkungan. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan yang terjadi diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan dan pembangunan prasarana dan sarana umum yang rusak seperti perbaikan jalan setapak, MCK, saluran air, pengelolaan sampah dan rehabilitasi rumah yang tidak layak huni, dll.

¨ Hubungan dengan aspek ekonomi. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan yang terjadi adalah pemberian pinjaman dana bergulir untuk berbagai jenis bidang usaha ekonomi produktif yang berskala kecil.

¨ Hubungan dengan aspek sosial. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan yang terjadi adalah memberikan santunan sosial berupa santunan tunai dan sembako murah, peningkatan kesehatan dll.

¨ Hubungan dengan aspek pendidikan. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan yang terjadi diantaranya menjadi pemberian beasiswa dll.

¨ Hubungan dengan aspek pengembangan sumber daya manusia. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan yang terjadi adalah melaksanakan berbagai kegiatan pelatihan keterampilan, dll.

2.13 KONDISI KEMISKINAN DARI ASPEK EKONOMI

Masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg menghadapi persoalan berat dengan rendahnya tingkat pendapatan dan disisi lain terjadi meningkatan harga-harga kebutuhan pokok, selain itu masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg dihadapkan pada persoalan adanya PHK, sulitnya lapangan kerja yang mengakibatkan banyaknya angka pengangguran, dll.

Namun hal yang mendasar adalah persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang bergerak dalam usaha ekonomi kecil produktif adalah rendahnya SDM masyarakat miskin, sulitnya pemasaran dan sulitnya mendapat akses permodalan bagi masyarakat miskin.

2.14 KONDISI KEMISKINAN DARI ASPEK SOSIAL

Beberapa kondisi kemiskinan yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg dilihat dari aspek sosial, dapat dilihat dari masih rendahnya semangat untuk senantiasa berpartisipasi dalam berbagai aktifitas kegiatan membangunan wilayah, masih adanya warga miskin jompo yang terlantar, dll.


[1] Perkiraan dari Jumlah Penduduk Dewasa yang Memiliki Hak Pilih pada Pilkada Kab. Bogor

PENDAHULUAN

PJM PRONANGKIS No Comments »

1.1 LATAR BELAKANG

Saat ini kemiskinan telah menjadi persoalan besar bangsa Indonesia. Pengalaman dalam penanganan kemiskinan membuktikan bahwa persoalan ini tidak dapat ditangani oleh negara tanpa keterlibatan seluruh komponen bangsa. Mengacu pada pengalaman tersebut, upaya penanggulangan kemiskinan dipandang akan lebih efektif bila dilakukan secara bersama-sama sebagai sebuah gerakan sosial dari seluruh komponen masyarakat. Upaya penanggulangan kemiskinan juga seharusnya dilakukan secara berkelanjutan dan bertumpu pada nilai-nilai luhur kemanusiaan (jujur, adil, dapat dipercaya, kerelawanan/ ikhlas, kebersamaan, dan kesatuan dalam keberagaman) dengan diiringi oleh prinsip-prinsip kemasyarakatan (demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan desentralisasi).

Pendekatan penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan selama ini yang hanya melihat pada persoalan kemiskinan pada tataran gejala-gejala yang nampak dari luar, sering berimplikasi pada ketidakmampuan untuk menjawab tantangan penanggulangan kemiskinan secara komprehensif (menyeluruh), tetapi justru semakin memperburuk kondisi kehidupan masyarakat, terutama menyuburkan benih ketergantungan masyarakat pada bantuan dari luar, menumbuhkan benih-benih perpecahan di masyarakat (saling curiga, saling tidakpercaya, saling menyalahkan dll) serta melemahkan kapital sosial. Hal ini pada gilirannya juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. Situasi ini menyebabkan masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, tidak bisa memahami dan ikut merasakan penderitaan orang lain serta hilangnya fitrah manusia sebagai makhluk sosial.

Upaya penanggulangan kemiskinan seharusnya mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dan kondisi masyarakat miskin menjadi masyarakat berdaya, selanjutnya menjadi masyarakat mandiri dan akhirnya terbangun masyarakat madani. Berpijak pada keyakinan tersebut, maka perlu sentuhan manusiawi untuk memberdayakan masyarakat melalui pengembangan konsep penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan utuh dengan mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Dalam kaitannya dengan Delapan Tujuan Pembangunan Milenium, sangat disadari bahwa kemiskinan mempunyai banyak aspek antara lain penghasilan rendah (kurang dari $1 per hari), buta huruf, kesehatan yang buruk, ketidaksamaan derajat antara jenis kelamin dan buruknya lingkungan hidup. Bahwa lima dari delapan tujuan pembangunan tersebut menyangkut masalah pendidikan dan kesehatan mengisyaratkan bahwa inti dari kesejahteraan masyarakat berasal dari peningkatan sumber daya manusia.[1]

Berdasarkan pemahaman tersebut maka BKM CITRA MANDIRI melalui langkah Perencanaan Partisipatif penyusunan PJM Pronangkis, dengan berdasar kepada hasil Refleksi Kemiskinan dan Pemetaan Swadaya, merancang strategi penanggulangan kemiskinan melalui PNPM Mandiri Perkotaan yang diharapkan mampu berkelanjutan, dengan tujuan utama peningkatan sumber daya manusia. Strategi baru yang dipilih, yang melibatkan seluruh warga masyarakat dalam penyusunan program, diharapkan akan memberikan dampak perubahan sikap dan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik, lebih peduli kepada sesama dan lebih peduli kepada upaya penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg.

BKM CITRA MANDIRI menyadari bahwa penanggulangan kemiskinan tidak dapat diselesaikan oleh warga masyarakat sendiri tetapi memerlukan bantuan atau peran serta semua unsur pembangunan sehinga menjadi gerakan bersama. Untuk itu melalui Perencanaan Partisipatif ini diharapkan bahwa pada akhirnya akan melahirkan kemitraan BKM CITRA MANDIRI KEL. PONDOK RAJEG dengan Program Pemerintah Kelurahan Pondok Rajeg khususnya dan dengan instansi Pemerintah di tingkat yang lebih tinggi maupun dengan pihak swasta dan individu yang peduli pada upaya penanggulangan kemiskinan.
Rencana Program ini disusun berdasarkan hasil-hasil kegiatan Pemetaan Swadaya yang berpegang pada Tridaya (Lingkungan, Ekonomi dan Sosial) dan kesepakatan-kesepakatan bersama yang dituangkan dalam suatu program yang disebut program 3 tahunan (rencana strategis) dan 1 tahunan (rencana aksi). Penanggung jawab penyusunan PJM Pronangkis ini adalah seluruh masyarakat yang dikoordinasi oleh Pimpinan Kolektif BKM CITRA MANDIRI.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) BKM CITRA MANDIRI Kelurahan Pondok Rajeg disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk menentukan arah dan tujuan kegiatan penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg
  2. Agar dapat mengetahui jenis-jenis usulan dan rencana kegiatan berdasarkan pada potensi yang ada serta kebutuhan riil masyarakat yang ada di Kelurahan Pondok Rajeg
  3. Agar dapat mengindentifikasi rencana program masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg dalam penanggulangan kemiskinan sesuai klasifikasi swadaya masyarakat, BLM, serta bantuan APBD

1.3 RUANG LINGKUP

Kelurahan Pondok Rajeg ini terdiri dari 11 RW dan 44 RT, sejak awal ada 2 RW yaitu RW 09 dan RW 10 yang seluruhnya terdiri dari 12 RT yang tidak terlibat dalam siklus kegiatan PNPM-Mandiri Perkotaan. Selain karena tidak adanya relawan dari kedua wilayah tersebut, sejak awal memang ada asumsi bahwa kemiskinan relatif tidak menjadi persoalan di kedua wilayah ini, karena melihat tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan warga masyarakat di kedua RW tersebut.
Karena alasan-alasan tersebut diatas, maka dalam PJM Pronangkis ini kedua RW tersebut tidak masuk dalam ruang lingkup kegiatan yang didanai oleh BLM PNPM Mandiri Perkotaan ini. Sekalipun demikian, tentunya diharapkan bahwa pembangunan di kedua wilayah tersebut dapat didanai dengan dana yang berasal dari program-program lainnya.

1.4 VISI, MISI DAN PRINSIP PJM PRONANGKIS

Visi, Misi dan Prinsip PJM Pronangkis yang ditetapkan oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg dalam rencana penanggulangan kemiskinan ini adalah sbb:

  1. a. VISI PJM Pronangkis :

”Dengan semangat gotong-royong, bersama-sama mewujudkan warga masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang demokratis dengan membangun sinergi dengan berbagai pihak untuk menanggulangi kemiskinan secara efektif dan berkelanjutan pada tahun 2011

  1. b. Misi PJM 3 tahunan :

Berdasarkan visi tersebut di atas, maka misi penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Pondok Rajeg adalah sebagai berikut :

  1. Peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana umum untuk warga miskin terkait beberapa persoalan yang dinilai mendesak
  2. Pemerataan kesempatan pendidikan dasar terkait masalah buta huruf dan keterbatasan terhadap akes informasi
  3. Peningkatan keterampilan yang produktif untuk warga miskin
  4. Mendorong terciptanya lapangan pekerjaan baru yang produktif
  5. Peningkatan Layanan kesehatan untuk masyarakat miskin

  1. c. Tujuan dan taget PJM 3 tahunan

Berdasarkan misi diatas, maka dapat di buat lebih rinci mengenai tujuan dan target PJM 3 tahunan berdasarkan kategori masing-masing bidang, sebagai berikut :

Tujuan dan target dalam bidang fisik/ lingkungan sebagai berikut :

  1. Meningkatnya kualitas pelayanan sarana dan prasarana umum masyarakat
  2. Menurunnya persoalan masyarakat terkait sampah dan pengelolaannya
  3. Menurunya persoalan masyarakat miskin yang belum mendapat pelayanan air bersih dan MCK
  4. Menurunya persoalan warga miskin yang masih mempunyai rumah tidak layak huni

Tujuan dan target dalam bidang pendidikan sebagai berikut :

  1. Meningkatnya jumlah anak untuk mengikuti pendidikan dasar
  2. Meningkatnya kualitsa masyarakat yang masih buta huruf dan putus sekolah
  3. Meningkatnya kualitas masyarakat dalam mengakses informasi

Tujuan dan target dalam bidang sosial sebagai berikut :

Terciptanya lapangan kerja baru untuk warga miskin melalui peningkatan kapasitas keterampilan

Tujuan dan target dalam bidang ekonomi sebagai berikut :

Meningkatnya angka pendapatan warga miskin dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

Tujuan dan target dalam bidang kesehatan sebagai berikut :

  1. Meningkatnya kesempatan warga miskin untuk mengakses informasi/layanan kesehatan
  2. Meningkatnya kesehatan lingkungan

  1. d. Prinsip Penyusunan PJM Pronangkis

Prinsip-prinsip yang di junjung tinggi dalam PJM Pronangkis Kelurahan Pondok Rajegen adalah:

  1. 1. Demokrasi

Dalam setiap keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak terutama kepentingan masyarakat miskin selalu menggambil keputusan secara kolektif dan demokratis

  1. 2. Partisipasi

…….. Dalam setiap kegiatan selalu melibatkan segenap komponen masyarakat, khususnya kelompok masyarakat miskin yang selama ini tidak memiliki peluang/akses dalam program dan kegiatan setempat sehingga mampu membangun rasa kepemilikan dan proses belajar melalui mekanisme bekerjasama.

  1. 3. Transparasi dan Akuntabilitas

Dalam proses manajemen organisasi, masyarakat harus menerapkan prinsip transparasi dan akuntabilitas sehingga masyarakat belajar dan membiasakan diri bertanggung jawab terhadap kegiatan yang dilaksanakan.

  1. 4. Desentralisasi

Dalam proses penggambil keputusan dilakukan sedekat mungkin dengan manfaat pada masyarakat sendiri, sehingga keputusan yang dibuat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat banyak.

1.5 SISTEMATIKA PENYUSUNAN PJM PRONANGKIS

Visi, Misi dan Prinsip PJM Pronangkis yang ditetapkan oleh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg dalam rencana penanggulangan kemiskinan ini adalah sbb:

Proses penyusunan PJM Pronangkis Kelurahan Pondok Rajeg dilaksanakan melalui serangkaian rembug warga atau focus group discuss (FGD) mulai dari tingkat RT/RW hingga tingkat Kelurahan. Sementara pelaksana dan penanggung jawab penyusunan PJM Pronangkis adalah seluruh masyarakat Kelurahan Pondok Rajeg yang tergabung dalam Tim Penyusunan PJM Pronangkis yang dikoordinir oleh BKM dan difasilitasi oleh kader-kader masyarakat beserta fasilitator. Untuk lebih rincinya bagaimana proses penyusunan PJM Pronangkis di Kelurahan Pondok Rajeg, sebagai berikut :

  1. Pada tahap awal Paguyuban Warga Pondok Rajeg/BKM melakukan sosialisasi atau penyebarluasan hasil pemetaan swadaya kepada RT/RW dan warga masyarakat.
  2. Sebelum penyusunan PJM Pronangkis yang dilakukan bersama-sama BKM, kader masyarakat dan anggota Tim pemetaan swadaya diberikan pelatihan atau pengarahan formal / informal oleh Tim fasilitator khususnya mengenai Prinsip, metode dan teknis-teknis perencanaan partisipatif.
  3. Selanjutnya dilaksanakan rembug warga RT/RW di tingkat Desa dalam rangka konfirmasi hasil PS lalu pembentukan dan penetapan Tim penyusun PJM Pronangkis (terdiri dari BKM, kader masyarakat, Tim pemetaan swadaya serta perwakilan komponen masyarakat lainnya). Peserta rembug warga ini adalah berbagai komponen masyarakat dengan tetap mengoptimalkan keterlibatan dan peran serta dari perempuan atau kelompok masyarakat miskin
  4. Tim PJM Pronangkis yang terbentuk selanjutnya melakukan penyusunan Draf Dokumen PJM Pronangkis Kelurahan Pondok Rajeg dengan mengacu pada aspirasi dan usulan warga masyarakat, untuk kemudian draf yang telah disusun disebar luaskan kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat dapat mempelajari draf yang telah disusun dan nantinya akan dibahas kembali dalam Lokakarya PJM Pronangkis tingkat Kelurahan.
  5. Draf Dokumen PJM Pronangkis yang telah disusun selanjutnya di lokakaryakan di tingkat Kelurahan dengan melibatkan semua komponen masyarakat, hasil pembahasan dan revisi dalam lokakarya ini ditetapkan menjadi Dokumen PJM Pronangkis.

Demikian proses penyusunan PJM Pronangkis yang telah kami lakukan Rencana Kegiatan PJM Pronangkis Kelurahan Pondok Rajeg ini merupakan akumulasi usulan rencana atau kegiatan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat sehingga bagian rencana kegiatan berisi jenis-jenis usulan dan rencana kegiatan berdasarkan peta kekuatan dan potensi serta kebutuhan riil yang ada di masyarakat, dengan memperhatikan urutan prioritas kegiatan, estimasi, polemik kegiatan, tahun pelaksanaan, sumber pendanaan (Swadaya, BLM) serta hasil yang diharapkan.


[1] Bank Dunia. 2004. Laporan pembangunan Dunia. Mewujudkan Pelayanan Umum bagi Masyarakat Miskin (Ikhtisar). Hal. 2-3.

Pemerintah Apresiasi Pelaku PNPM Perkotaan Melalui GKPM

PNPM Mandiri Perkotaan No Comments »

Pemberian penghargaan kepada para pelaku pemberdayaan masyarakat, merupakan bentuk apresiasi yang setinggi-tingginya atas berbagai upaya masyarakat dan kalangan dunia usaha dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Diharapkan kegiatan ini dapat terus ditingkatkan agar maspl_her_gkpm1yarakat Indonesia lebih berdaya, maju dan sejahtera.

Demikian arahan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Sujana Royat, yang dibacakan Asdep Urusan Penguatan Masyarakat dan Kawasan Tono Supranoto, saat menutup kegiatan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat (GKPM) Expo dan Award 2009, di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, pada Minggu petang (16/8/2009).

Menurut Sujana Royat, peran dan partisipasi masyarakat, kalangan dunia usaha, maupun perguruan tinggi dalam upaya pemberdayaan masyarakat telah dituangkan dalam karya nyata yang menjadi kebanggaan kita bersama, dan telah menunjukkan bahwa kita mampu untuk bangkit bersama menjadi bangsa yang berdaya dan mandiri.

“Sinergi berbagai pihak dalam program pemberdayaan masyarakat mampu menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat,” tegas Sujana Royat, di hadapan ratusan undangan, yang terdiri atas perwakilan Negara-negara ASEAN, perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, para pelaku Pusat dan Daerah PNPM Mandiri, organisasi masyarakat (Ormas), LSM, Perwakilan CSR dan PKBL.

Sujana melanjutkan, program pemberdayaan masyarakat melalui instrumen PNPM Mandiri yang dilaksanakan di Indonesia akan diadopsi oleh negara-negara ASEAN lainnya. “Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua, karena program kita ternyata menginspirasi Negara-negara sahabat ASEAN, agar dapat menerapkan hal yang sama dalam program nangkis mereka dan diaplikasikan di negaranya,”jelas dia

Terkait penghargaan, berdasar data Kantor Menko Kesra diperoleh, dari PNPM Mandiri Perkotaan, pihak yang mendapat gelar terbaik kategori Faskel adalah Puji Astuti dari KMW Provinsi Jawa Tengah, Hamka Karepasina dari Maluku Utara. Sedangkan kategori BKM terbaik adalah BKM Pondok Betung dari Provinsi Banten, BKM Walenae dari Sulawesi Selatan. Terakhir, kategori KSM terbaik adalah KSM Songko dari Sumatera Barat dan KSM pl_her_gkpm2Tirta Abadi dari Kalimantan Selatan. Walikota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mendapatkan award dari Pemerintah Pusat, atas suport, kepedulian pemkot/pemda terhadap PNPM Mandiri.

Sementara itu, tiga BKM, tiga Faskel dan enam KSM P2KP dari berbagai penjuru tanah air mendapatkan kesempatan mengikuti beberapa seminar dengan fasilitas penuh, baik transportasi maupun akomodasinya. Tiga KSM sebagai narasumber pada acara Seminar “The Best Practice in Community Empowerment” itu adalah, pertama, KSM Rumah dari Bengkulu, dengan topik Perbaikan Rumah Masyarakat Miskin dan Penataan Lingkungan Melalui PNPM Mandiri Perkotaan. Kedua, KSM Air Bersih Tirta Abadi dari Kalimantan Selatan, dengan topik Peningkatan Akses Pelayanan Air Bersih dan Sanitasi Masyarakat Miskin. Ketiga, KSM Srimoeljanto dari Jawa Tengah, dengan topik Inisiatif Kebijakan Lokal dalam Mendorong Penanggulangan Kemiskinan Dengan Pendekatan CDD.

Adapun penghargaan bagi Faskel yang meninggal dalam tugas terdiri dari KMW Provinsi Jawa Timur, yaitu Siti Mukhlisoh, Abdurrochim dan Martha Dian Fatmawati, ST. Dari KMW Provinsi Bengkulu adalah Ari Zeniarta Gusti S.Hut. Dari KMW Provinsi Kepri adalah M. Fahrizal dan dari KMW Provinsi Riau Juferdi. Penghargaan khusus tersebut diterima oleh wakil/ahli waris masing-masing, dengan fasilitas penuh dari Pemerintah.

Selain undangan yang dibiayai Pemerintah Pusat, ada pula peserta pameran yang dibiayai sendiri oleh pemda/pemkotnya, seperti Kota Pekalongan dengan produk unggulan batik, yang dikawal langsung oleh Walikota Pekalongan dan TL KMW Provinsi Jawa Tengah. Selain itu juga, perwakilan dari Kota Kupang dengan produk-produk unggulannya, yang juga dikawal langsung oleh Walikota Kupang dan beberapa anggota BKM P2KP Kota Kupang.

Satu Stan Pusat dan Lima Kios KSM

pl_her_gkpm3Dalam acara GKPM Expo dan Award 2009 yang berlangsung 14-16 Agustus 2009, PNPM Mandiri Perkotaan menyiapkan satu stan untuk Pusat, dan lima stan/kios untuk KSM. Adapun penanggungjawab pameran dari pihak P2KP terdiri atas Asisten PPK PNPM Mandiri Perkotaan Ir. Madya Soemady, MT., Staf Proyek P2KP Ir. Sera Suryana, dan TA Mass Communication KMP Iroh Rohayati Fatah.

Menurut Madya, lima kios KSM diperuntukkan bagi KMW sekitar Jakarta, yaitu KMW Provinsi Banten- DKI, dan KMW Provinsi Jawa Barat. “Isi kios-kios tersebut adalah hasil produksi KSM, seperti anyaman dari bambu, jus jambu, tas, kaos, makanan kecil, kain sulam Aceh, dan sebagainya. Setiap hari rata-rata penjaga stan sebanyak 15 orang, yang terdiri dari Faskel dan anggota BKM/KSM,” jelas dia.

Pameran PNPM Mandiri ini dinilai sangat menarik minat pengunjung, termasuk sekitar 200 anggota BKM/LKM dari beberapa kecamatan di DKI Jakarta. “Kebetulan kami baru saja menyelesaikan studi banding ke beberapa kecamatan di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, yaitu ke BKM Kelurahan Palmerah, Jakarta Pusat. Jadi, sekalian saja melihat ke pameran,” kata Senior Faskel Taswin dan Askot Jakarta Pusat Inayatullah.

(heroe.k, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Sumber : http://www.p2kp.org

Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM)

KEGIATAN BKM 2 Comments »

BKM CITRA MANDIRI secara resmi pada hari Sabtu, 29 Agustus 2009 disela-sela acara berbuka puasa pengurus BKM dan Tim FASKEL,meluncur kan leatlet/Sticker PPM. Didalam Sticker tersebut berisi himbauan kepada masyarkat yang ingin menyalurkan aspirasinya, dapat menghubungi alamat sekretariat BKM, Nomor Telp, Email, Weblog BKM. Sticker ini akan ditempel ditempat-tempat yang strategis seperti di Kantor Kelurahan,Musholla, Masjid, Pos Ronda, Papan Informasi RW/RT.

PPM adalah kependekan dari Pengelolaan Pengaduan Masyarakat, adalah suatu kegiatan menampung dan menindaklanjuti aduan dari masyarakat maupun pelaku PNPM Mandiri Perkotaan berkaitan dengan pelaksanaan PNPM-MP di lapangan. PPM diperlukan agar ada wadah atau media yang menampung keluhan dan aspirasi masyarakat maupun pelaku PNPM-MP.

Leatlet

BKM CITRA MANDIRI MENERBITKAN MEDIA WARGA

KEGIATAN BKM No Comments »

Untuk lebih memberikan seluas-luasnya informasi kepada warga kelurahan mengenai kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan, maka diterbitkanlah media warga ini. Pada edisi pertama ini berisi mengenai review kegiatan Siklus PNPM Mandiri Perkotaan di Kel. Pondok Rajeg. Disitu diulas mulai dari Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) sampai tahap pelaksanaan yang saat ini sedang berlangsung.

Diharapkan dengan diterbitkannya media warga ini, seluruh masyarakat dan aparat pemerintah kelurahan mengetahui tentang perkembangan kegiatan PNPM-MP sudah sampai di siklus mana.

Harapannya semoga media warga ini dapat terbit secara teratu, sehingga dapat menjadi wadah informasi antara BKM dan masyarakat.

media-dpn

media-dlm

Sosialisasi Massal

KEGIATAN BKM No Comments »

BKM CITRA MANDIRI Kel. Pondok Rajeg melaksanakan sosialiasi massal, Minggu (11/2/2009). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya pengenalan kembali kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan kepada seluruh warga desa, sekaligus ajang transparansi dan akuntabilitas kegiatan pemanfaatan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Tahap I.

Acara sosmas ini diisi dengan konvoi kendaraan bermotor, dan membagi-bagikan media warga, serta diadakan quiz untuk para warga mayarakat. Acara konvoi di mulai jam 09.00Wib yang dilepas oleh Camat Cibinong Bapak Rudy Gunawan, SH. Yang diawali dengan sambutan. Namun sebelum itu ketua panitia sosmas Bapak Syari Hidayat memberikan laporannya mengenai acara sosmas tersebut. Turut hadir juga dalam kesemptan tersebut Lurah Pondok Rajeg Bapak Syamsul Arifin. dan Ketua LPM Kel. Pondok Rajeg  Bapak H. Mustofa Kamal. serta Ibu Roma Sugiarti dan bapak Jajang perwakilan dari Faskel.

Jalur yang dilalui peserta konvoi adalah seluruh RW di lingkungan Kel.Pondok Rajeg. Dan disetiap RW rombongan berhenti untuk menyebarkan media warga, yang berisi informasi tentang kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di Kel. Pondok Rajeg, serta diadakan quiz yang pertanyaannya seputar kegiatan PNPM-MP, dan bagi warga yang dapat menjawab dengan benar pertanyaan yang di ajukan, maka diberikan souvenir berupa alat-alat rumah tangga. Setelah rombongan berkeliling sekitar 4 jam, maka rombongan makan siang bersama di rumah Korrdinator BKM CITRA MANDIRI,Bapak kamaludin.

Berikut foto-foto kegiatan sosmas tersebut

sosmas-1

Bapak Syarif Hidayat selaku ketua panitia sedang memberikan laporan


sosmas-2

Camat Cibinong Bapak Rudy Gunawan,SH memberikan arahannya sebelum melepas konvoi kendaraan bermotor

sosmas-8

Peserta konvoi mulai bergerak


sosmas-3

Anak-anak pun antusias mengikuti kegiatan SOSMAS ini

sosmas-4

Berbagi kebahgian dengan anak-anak

sosmas-5

Salah seorang warga yang mendapat souvenir

sosmas-6

Lumayan dapat hadiah….

sosmas-7

Setelah lelah keliling kampung nikmatnya makan bersama…

Dana PNPM Cibinong Rp 3,6 M

PNPM Mandiri Perkotaan No Comments »

IBUKOTA Kabupaten Bogor, Cibinong mendapatkan aliran dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebesar Rp 3,6 Miliar. Namun, pemanfaatan dana sebesar itu dilakukan secara bertahap.

Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) PNPM Kecamatan Cibinong Encep Wahyu mengatakan Kecamatan Cibinong memang mendapatkan dana senilai Rp 3,6 Miliar untuk 12 kelurahan. Rincinya, kata dia, Rp 200 juta untuk Nanggewer Mekar, Cirimekar, Tengah dan Pondok Rajeg. Sedangkan Pakansari, Ciriung, Cibinong, Pabuaran, Nanggewer, Harapan Jaya, Karadenan dan Sukahati mendapatkan masing-masing Rp 350 juta “Kami memang mendapatkan dana sebesar itu. Tapi, pemanfaatan dana tersebut tidak bisa langsung dan harus dilakukan secara bertahap.

Saat ini saja, pencairan dana PNPM Mandiri baru tahap pertama dan masih ada dua tahapan berikutnya,” ungkap. Encep. Pemanfaatkan aliran dana program penanggulangan kemiskinan tersebut dalam bentuk pembangunan fisik.

Masyarakat menggunkan dana PNPM untuk membangun infrastruktur, seperti betonisasi jalan tandas pria yang menjabat sebagai Kepala Seksi Perekonomian di Kecamatan Cibinong itu. Lebih lanjut ia mengatakan pemanfaatan dana PNPM Mandiri di Cibinong memang mengalami keterlambatan la mengakui persyaratan dalam pencairan dana PNPM tersebut dirasa menyulitkan Badan Kewaspadaan Masyarakat (BKM) dalam mengurus adrninistrasinya. “Saya kira program ini sangat baik untuk di jadikan pembelajaran masyarakat karena pemanfaatan dana ini melibatkan langsung masyarakat. Namun, tahapan-tahapan pemanfaatan PNPM Mandiri memang agak sulit,” katanya

Sumber : Website Pemerintah Kabupaten Bogor (www.bogorkab.go.id)

Rangkaian Acara Serah Terima BLM Tahap.I

KEGIATAN BKM No Comments »

Acara serah-terima BLM dari BKM kepada KSM di kelurahan Pondok Rajeg berlangsung pada hari Selasa, 11 Mei 2009 bertempat di AULA Kantor Kelurahan. Hadir pada kesempatan tersebut Camat Cibinong Bapak Rudy Gunawan, SH, PJOK Kegiatan PNPM-MP Kec. Cibinong Bapak Encep Wahyu, BE, Lurah Pondok Rajeg, Bapak Syamsul Arifin, Ketua LPM Kel. Pondok Rajeg Bapak H. Mustofa Kamal, serta para pengurus Rt/RW dan tokoh masyarakat lainnya, dan tidak ketinggalan para Faskel dari TIM. 17.

Acara dibuka dengan sosialissai tentang penanganan sampah dilingkungan rumah tinggal yang dibawakan oleh Ibu Musti Lestari dari Dinas Kebersihan Kabupaten Bogor. Lalu dilanjutkan dengan laporan dari Koordinator BKM CITRA MANDIRI Bapak kamaludin. Dalam laporannya beliau memaparkan perjalannan kegiatan PNPM-MP dari mulai tahapan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) hingga sampai tahapan pemamfaatan dana BLM oleh para KSM.

Setelah itu Bapak Wahyu Gumilar, SAg sebagai wakil dari tim Faskel memberi kan arahannya kepada para KSM yang menerima bantuan dana BLM.Dalam pesannya beliau mengamanatkan agar KSM dapat mengerjakan proyek pem buatan jalan setapak ini sesuai dengan usulan yang diajukan dalam proposal. Serta juga ditekankan agar setiap KSM menjaga kualitas dari pekerjaanya tersebut.

Dan dalam sambutannya Lurah Pondok Rajeg Bapak Syamsul Arifin, juga me nekankan agar para KSM penerima BLM dapat menjaga amanah yang diberi kan. Dan agar kegiatan PNPM-MP ini juga dijadikan sarana warga bergotong royong, karena sesuai dengan program Bupati Bogor yang menginginkan Kabupaten Bogor menjadi Kota Adipura.

Sebelum menyerahkan BLM kepada KSM Camat Cibinong memberikan arahan, diantaranya perlu digali sebanyak mungkin swadaya dari masyarakat, karena BLM hanya merupakan dana stimulan. Dan semua swadaya dari masyarakat agar di catat dalam administrasi yang tertib. Setelah memberikan arahannya Bapak Camat langsung memberikan dana BLM kepada salah satu KSM.Setelah acara penyerahan dana BLM selesai, maka acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua LPM Kel. Pondok Rajeg Bapak H. Mustofa Kamal.

Aekedar informasi, Pagu dana BLM untuk Kelurahan Pondok Rajeg sebesar 200 Juta Rupiah. Dan sesuai dengan ketentuan PNPM-MP dana yang masuk kerekening BKM dibagi dalam 3 termin. Dan pada termin pertama ini telah masuk ke rekening BKM sebesar 30% atau sebesar Rp. 60 Juta Rupiah.

Dan sesuai dengan hasil BAPUK yang diselenggarakan oleh para pimpinan kolektif BKM CITRA MANDIRI, dan juga berdasarkan proposal-proposal yang telah dianggap layak dan telah di verifikasi oleh tim Faskel dan Korkot, maka telah ditetapkan 7 (tujuh) KSM yang akan menerima dana BLM pada tahap pertama ini.

Nama-nama KSM yang menerima dana BLM tersebut adalah :

1. KSM Swadaya Mandiri Lokasi Rt.05/01

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 120 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang di terima Rp. 6. 160.000,-

2. KSM Kamboja Lokasi Rt.04/02

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 100 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang di terima Rp. 5. 134.000,-

3. KSM Mahesa Lokasi Rt.05/03

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 100 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang diterima Rp. 5.134.000,-

4. KSM Karya Cipta Mandiri Lokasi Rt.01/04

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 260 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang diterima Rp. 12.833.000,-

5. KSM Kenari Lokasi Rt.01/05

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 150 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang diterima Rp. 7.700.000,-

6. KSM Cipta Sarana Mandiri Lokasi Rt.03/06

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 220 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang diterima Rp. 11.293.000,-

7. KSM Al-Barokah Lokasi Rt.01/08

Usulan Pembuatan Jalan setapak dengan Paving Blok

dengan volume : 185 x 1 x 0.08 M2

Dana BLM yang diterima Rp. 9.496.000,-

imagead_336x280

Pengurus BKM CITRA MANDIRI berfoto bersama dengan Camat Cibinong

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1430.H

KEGIATAN BKM 1 Comment »

rmdn_earth

Baru saja kita menutup “Buku Perjalanan Hidup”, dan membuka ”lembaran buku baru” untuk tahun yang akan datang saat Nishfu Sya’ban (Pertengahan bulan Sya’ban). Beberapa hari ke depan, Insya Allah Ramadhan akan datang lagi, Bulan keagungan yang penuh dengan hikmah, berkah, rahmah dan ampunan.

Dengan senantiasa memohon Hidayah dan Taufik Allah SWT, kita akan senantiasa memuliakan Ramadhan dengan berbagai ibadah : puasa, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, qiyamul lail, dan lain sebagainya. Izinkanlah kami, segenap pengurus BKM CITRA MANDIRI dengan segala kerendahan hati, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu/Saudara(i) sekalian yang telah dan pernah berinteraksi bersama kami, baik secara fisik maupun melalui dunia maya bila selama ini kami telah melakukan hal-hal yang kurang berkenan di hati.

Semoga berkah Ramadhan 1430 H kali ini dapat memberikan hikmah serta makna bagi kita untuk tetap konsisten membuktikan kebajikan yang timbul dari kesucian.

Marhaban Yaa Ramadhan…Selamat Menjalankan Ibadah Puasa